Yogi jaya pratama (menurunnya kualitas belajar anak zaman sekarang)

 menurunnya kualitas belajar anak zaman sekarang

https://www.kompasiana.com/zyy8144/6833f928ed641555072dde72/menurunnya-kualitas-pendidikan-anak-anak-di-indonesia-dikarenakan-penggunaan-handpone-yang-salah

Menurunnya Kualitas Pendidikan Anak-Anak di Indonesia Dikarenakan Penggunaan Handpone yang Salah


Menurunnya kualitas pendidikan anak sekolah di Indonesia kini menjadi kekhawatiran yang semakin nyata, terutama sejak maraknya penggunaan handphone secara bebas dan tidak terkontrol. Handphone, yang seharusnya menjadi alat bantu komunikasi dan akses informasi, kini justru banyak disalahgunakan oleh anak-anak untuk keperluan yang tidak produktif.

Seiring perkembangan teknologi, pelajar dari berbagai jenjang---terutama tingkat dasar dan menengah---telah memiliki akses mudah terhadap ponsel pintar. Namun sayangnya, banyak dari mereka lebih sering menggunakannya untuk bermain game, mengakses media sosial, atau menonton video hiburan daripada belajar. Hal ini berimbas pada menurunnya minat belajar, rendahnya konsentrasi di kelas, hingga kurangnya interaksi sosial secara langsung dengan guru maupun teman sekelas.

Salah satu alasan utama mengapa handphone berdampak negatif terhadap pendidikan anak sekolah adalah karena kurangnya kontrol terhadap konten dan durasi penggunaan. Banyak anak sekolah yang memiliki akses tidak terbatas terhadap internet tanpa pendampingan orang tua, sehingga mereka bebas mengakses berbagai platform hiburan seperti YouTube, TikTok, Instagram, dan game online. Ketika anak-anak terlalu sering terpapar konten hiburan, terutama yang tidak sesuai usia mereka, maka waktu belajar dan aktivitas kognitif yang mendukung perkembangan akademik pun terganggu. Kondisi ini menyebabkan mereka kehilangan fokus, menjadi cepat bosan dalam proses belajar, dan cenderung memiliki rentang perhatian yang pendek.

Selain itu, sifat adiktif dari media digital juga memperparah keadaan. Game online dan media sosial dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin, bahkan hingga berjam-jam. Anak-anak pun menjadi kecanduan, mengabaikan tugas sekolah, malas membaca buku, dan mengalami gangguan dalam manajemen waktu. Ketika alarm dopamine dari notifikasi atau kemenangan dalam permainan digital menjadi prioritas utama, pembelajaran konvensional di sekolah yang menuntut konsentrasi dan ketekunan menjadi kurang menarik di mata mereka.


Lebih lanjut, kebiasaan multitasking---seperti belajar sambil bermain ponsel---yang banyak dilakukan oleh pelajar justru menurunkan efisiensi belajar mereka. Penelitian menunjukkan bahwa otak tidak dirancang untuk fokus pada dua aktivitas berat sekaligus. Maka, meskipun anak terlihat "sibuk" dengan tugas sambil membuka ponsel, sebenarnya proses belajarnya tidak berjalan optimal. Ini berujung pada rendahnya pemahaman materi, lemahnya daya ingat, serta buruknya pencapaian akademik secara keseluruhan. Oleh karena itu, penggunaan handphone yang tidak terarah dan tidak diawasi menjadi salah satu faktor signifikan dalam penurunan kualitas pendidikan anak di Indonesia.

Berbagai penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa penggunaan handphone yang tidak terkontrol berdampak negatif terhadap prestasi belajar siswa. Salah satu penelitian oleh Apriyani (2021) menemukan bahwa siswa yang terlalu sibuk menggunakan smartphone mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi saat belajar, yang mengakibatkan penurunan prestasi akademik. Konten-konten negatif yang diakses melalui smartphone juga memicu sulitnya konsentrasi saat belajar.

Penelitian lain oleh Alifzal et al. (2018) di SMA PGRI 2 Kota Jambi menunjukkan bahwa penggunaan handphone yang kurang dimanfaatkan dalam proses belajar mengajar berdampak pada prestasi belajar siswa. Siswa yang tidak memanfaatkan handphone secara optimal dalam pembelajaran mengalami penurunan prestasi belajar.


 
Selain itu, laporan dari SMAN 9 Batam (2025) mengungkapkan bahwa penggunaan telepon pintar secara berlebihan untuk tujuan nonakademis dapat mengurangi produktivitas, menyebabkan manajemen waktu yang buruk, dan mempersulit konsentrasi pada kegiatan akademis yang penting. Gangguan fokus ini dapat membuat anak kesulitan untuk fokus, memahami konsep yang sulit, dan memahami pengetahuan, yang dapat berdampak pada kinerja akademis mereka secara umum.

Penggunaan handphone yang tidak bijak terbukti memberikan dampak negatif terhadap perkembangan pendidikan anak-anak di Indonesia. Ketergantungan pada ponsel untuk hal-hal yang bersifat hiburan, seperti media sosial, game online, hingga tontonan yang tidak mendidik, menyebabkan siswa kehilangan fokus dalam belajar, menurunnya semangat akademik, serta menurunnya kemampuan berpikir kritis. Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa ada intervensi, Indonesia akan menghadapi risiko menurunnya kualitas generasi penerus bangsa yang seharusnya dibentuk melalui proses pendidikan yang kuat dan bermutu.

Untuk itu, berbagai pihak harus turut mengambil peran dalam mengatasi masalah ini. Pertama, peran orang tua sangat penting. Orang tua perlu mengawasi dan mengatur waktu penggunaan handphone anak-anak mereka, serta memastikan bahwa penggunaannya diarahkan ke hal-hal yang bermanfaat seperti belajar daring, membaca e-book, atau menonton video edukatif. Kedua, sekolah harus aktif mengedukasi siswa tentang literasi digital dan etika penggunaan teknologi. Guru juga bisa mengintegrasikan teknologi dalam proses belajar mengajar agar siswa terbiasa menggunakan handphone untuk tujuan positif.

Pemerintah pun seharusnya berperan dalam mengembangkan kurikulum yang memasukkan materi mengenai literasi digital dan manajemen waktu. Selain itu, dibutuhkan kerja sama dengan penyedia layanan teknologi untuk membuat sistem kontrol dan fitur keamanan digital yang bisa digunakan oleh orang tua dan guru. Dengan solusi menyeluruh dari semua pihak, diharapkan penggunaan handphone dapat menjadi alat pendukung kemajuan pendidikan, bukan sebaliknya, menjadi penyebab kemundurannya.












Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

ADELIA PUTRI APRILIA (MAKANAN KHAS YOGYAKARTA)

jesica mahadewi oktafia (Banjir bandang di Sumatra)