Devi Fitriyani (Mengenal Tradisi Malam Satu Suro di Yogyakarta dan Surakarta, Adat Sakral Masyarakat Jawa)
Mengenal Tradisi Malam Satu Suro Di Yogyakarta Dan Surakarta, Adat Sakral Masyarakat Jawa
https://ambarrukmo.com/tradisi-malam-satu-suro-yogyakarta-dan-surakarta/
Mengenal Tradisi Malam Satu Suro di Yogyakarta dan Surakarta, Adat Sakral Masyarakat Jawa
Tradisi malam Satu Suro menjadi sebuah adat sakral yang masih dipercaya masyarakat Jawa, terutama Yogyakarta dan Surakarta. Malam satu Suro adalah penanda tahun baru di penanggalan Jawa, yang bertepatan juga dengan tanggal satu Muharram di kalender Hijriyah (tahun baru Islam).
Sebagai bulan yang istimewa, masyarakat Jawa selalu menyelenggarakan berbagai tradisi unik untuk menyambut tahun baru Saka. Agar kamu bisa lebih memaknai datangnya bulan Suro, simak pembahasan lengkap mulai dari sejarah hingga tradisi apa saja yang dilakukan oleh Keraton Yogyakarta dan Solo berikut ini!
Sejarah Tradisi Suro
Awal mula tradisi Satu Suro ini terjadi pada masa pemerintahan Kerajaan Mataram Islam. Bulan Suro dalam penanggalan Jawa dapat diartikan dengan bulan yang suci serta menyimpan energi spiritual yang tinggi.
Di bulan Suro, seluruh masyarakat Jawa yang masih mempercayai tradisi Kejawen diharapkan untuk melakukan introspeksi diri serta memanjatkan doa untuk satu tahun berikutnya. Karena Suro dianggap sebagai bulan yang sakral untuk masyarakat Jawa, muncullah sebuah larangan tak tertulis mengenai “dilarangnya menyelenggarakan hajat atau pesta saat bulan Suro datang”.
Usut punya usut larangan ini bukanlah sebuah mitos belaka. Dilansir dari sumber sejarah yang ada, Sultan Agung Hanyakrakusuma selaku raja ketiga (1613–1645) dari Kerajaan Mataram Islam merupakan sosok yang menciptakan penanggalan Jawa yang juga terdapat unsur kalender Islam di dalamnya. Proses penyatuan kalender Jawa dan Islam ini terjadi pada Jumat Legi, Jumadil Akhir tahun 1555 Saka atau 8 Juli 1633 Masehi.
Pada saat proses penyusunan kalender Jawa atau populer juga dengan sebutan kalender Sultan Agungan, beliau ingin membuat satu waktu dimana seluruh rakyat dari berbagai kalangan untuk mensucikan diri dari segala hal buruk dan introspeksi atas berbagai hal yang terjadi sebelumnya.
Akhirnya, pada bulan Suro inilah beliau ingin rakyatnya untuk mengolah tata batin mereka dari hal duniawi. Sikap inilah yang kemudian membuat banyak orang yang tidak menggelar perayaan atau pesta apapun pada bulan Suro, karena fokus pada introspeksi diri.
Tradisi Suro pun terus dilestarikan oleh masyarakat Jawa terutama di Jogja serta Solo walaupun sudah beberapa abad berlalu. Rangkaian tradisi bulan Suro juga tak hanya jadi sebuah ritual kebudayaan saja, namun juga menjadi magnet pariwisata di dua kota tersebut.
Tradisi Malam Satu Suro di Yogyakarta
Jamasan Pusaka
Jamasan Pusaka (Siraman Pusaka) jadi tradisi malam Suro yang rutin digelar Keraton Yogyakarta untuk mensucikan benda-benda pusaka yang ada seperti kereta, tosan aji (senjata), gamelan, dan lainnya. Upacara Jamasan Pusaka tergolong ke dalam warisan budaya tak benda yang bertujuan untuk menghormati leluhur serta merawat benda bersejarah.
Umumnya, Jamasan Pusaka diselenggarakan pada selasa kliwon dan atau Jumat Kliwon di bulan Suro (Muharram). Acara pensucian pusaka diawali dengan Jamasan Pusaka Tumbak Kanjeng Kiai Ageng Plered, kemudian dilanjutkan dengan pusaka-pusaka kuno lainnya.
Lampah Budaya Mubeng Beteng
Puncak tradisi malam Satu Suro yaitu Mubeng Beteng. Mubeng Beteng adalah mengitari kawasan beteng Keraton Yogyakarta dengan berlawanan arah jarum jam. Tradisi ini diikuti oleh para abdi dalem serta masyarakat umum untuk berjalan tanpa bicara (Tapa Bisu) serta tidak menggunakan alas kaki.
Sebelum pelaksanaan acara Mubeng Beteng, pihak keraton akan melakukan pembacaan doa untuk akhir tahun, doa awal tahun, serta doa bulan Suro. Selanjutnya, prosesi disambung dengan pemberian restu dari pemangku agama Keraton Yogyakarta.
Rute Mubeng Beteng Keraton Yogyakarta melingkupi area Keben (Kamandengan Lor) – Ngabean – Pojok Beteng Kulon – Plengkung Gading – Pojok Beteng Wetan – Jalan Ibu Ruswo – Alun-Alun Utara – Keben dengan total jarak 4 kilometer. Suasana hening, sunyi, dan khidmat akan menyelimuti prosesi Mubeng Beteng ini karena menjadi salah satu momen untuk merefleksikan diri tentang apa yang terjadi dalam sepanjang tahun belakangan.
Tapa Bisu
Tapa Bisu adalah bagian dari acara Mubeng Beteng yang merupakan tradisi malam Satu Suro. Pada prosesi ini biasanya peserta kirab tidak diperbolehkan mengeluarkan suara, bebunyian, serta berbicara sepanjang rute. Ritual Tapa Bisu biasanya diawali dengan lantunan tembang macapat yang terselip doa-doa serta harapan untuk satu tahun ke depan.
Makna filosofis dari tradisi Tapa Bisu ini adalah introspeksi diri dan meminta pengampunan dari Tuhan Yang Maha Esa. Acara Tapa Bisu dan Mubeng Beteng menjadi tradisi Suro yang dinantikan oleh banyak wisatawan baik domestik maupun asing.
Menyantap Bubur Suran (Bubur Suro)
Setelah menjalankan seluruh prosesi, masyarakat bisa menyantap Bubur Suran di area Keraton Yogyakarta yang memiliki cita rasa gurih cenderung manis. Bubur Suran dimasak menggunakan beras yang dibumbui santan, garam, serai, dan jahe, kemudian ditambahkan beberapa lauk pauk seperti opor ayam, sambal goreng, serta taburan tujuh jenis kacang.
Tujuh kacang yang digunakan dalam Bubur Suro terdiri dari kacang tanah, kacang mede, kacang kedelai, kacang hijau, kacang tholo, kacang bogor, dan kacang merah. Angka tujuh melambangkan 7 (tujuh) hari dalam seminggu dimana setiap harinya kita harus senantiasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala rezeki dan berkat yang diberikan.
Lampah Ratri
Tradisi Malam Satu Suro di Solo (Surakarta)
Keraton Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran juga memiliki tradisi malam Satu Suro yang berbeda. Perayaan Satu Suro di Solo, khususnya di Kasunanan selalu disambut oleh antusias besar masyarakat lokal karena terdapat Kirab Malam Satu Suro yang membawa ‘kebo bule’ sebagai ikon utamanya. Ini dia detail apa saja tradisimalam Satu Suro di Solo:
Jamasan Pusaka
Kirab Pusaka Dalem
Kirab Pusaka Dalem dilakukan di Pura Mangkunegaran dimulai dari area Pendapa Agung kemudian memutari tembok Pura Mangkunegaran. Namun di tahun 2024 terjadi perubahan rute dengan diperpanjang sampai melintasi Ngarsopuro hingga Jalan Slamet Riyadi.
Sama dengan tradisi Mubeng Beteng yang ada di Yogyakarta, Kirab Pusaka Dalem di Surakarta juga memiliki beberapa peraturan yang harus ditaati seperti dilarang untuk keluar dari rombongan kirab, dilarang mengeluarkan/berbicara sepanjang kirab, serta tidak menggunakan alas kaki apapun ketika berjalan.
Itulah berbagai tradisi Satu Suro yang ada di Yogyakarta dan Solo. Seluruh agenda menjelang Satu Suro dapat disaksikan oleh publik. Informasi terbaru tentang upacara adat di Yogyakarta dapat diakses melalui Instagram @kratonjogja.event dan @purapakualaman, sementara untuk Solo bisa diakses lewat Instagram @mangkunegaran dan @kraton_solo.
anggun : baguss bngtt
ReplyDeletewoww keren (flaura)
ReplyDeletebaguss bangett
ReplyDeletewahh baguss ⭐️⭐️⭐️
ReplyDelete